Ini soal uneg-uneg dihati bukan perkara apapun. Ceritanya begini ni,
kaget ngga kaget saat mendengar salah seorang sahabat dekat ane mencoba untuk pindah harokah atau pergerakan.
Dengan berbagai argument sahabat saya mencoba mengungkapkan kegalauannya. Dari
mulai tarbiyah itu tidak menjaga,
tidak diwajibkan menggunakan bahasa arab dan lalin-lain.
Ane menanggapinya hanya dengan senyuman.Ya
it’s never mind for me. Yang penting satu tujuan kita, membumikan islam karena Allah
dan ukhuwah kita tetep terjalin. Ane ga mau ribut hanya karena kita beda harokah. Apapun harokahnya
Allah tujuan kita!
Dan hari ini ane dikagetkan lagi,
dengan dirinya. Emang ada apa?
Ceritanya sahabat saya ini menceritakan kegalauannya kembali setelah tiga bulan bergabung dengan harokah barunya.
Waah baru tiga bulan mbak? Ane kira udah lama!
“ya bayangkan saja deh ukh, masak kita diminta mendakwahkan golput?”
“katanya itu demokrasi itu haram.
Jadi kita mendakwah kanu ntuk golput!”
“waah mbak ini bagaimana? Negara
kita tercinta ini kan Negara demokrasi. Kalau kita menganggap demokrasi itu haram
sementara kita membiarkan negeri kita tercinta ini dipimpin oleh orang non muslim,
apa jadinya mbak? Bayangkan saja Jakarta sekarang yang dipimpin oleh jokohok.
Umat muslim Jakarta sekerang terpinggirkan. Jokohok seenaknya membongkar masjid,
menempat kan lurah non muslim yang jelas-jelas ditolak oleh penduduknya.
Apa jadinya negeri kita ini mbak?” saya mencoba beragument.
Sementara sahabat saya ini sepakat dengan apa yang saya sampaikan.
“ya iya ukh, itu yang
saya tidak sepakat. Katanya begini, biarkan saja Negara kita dipimpin oleh non muslim.
Nanti kalau sudah terjadi kekacauan kita akan melakukan reformasi”
“walaaaaah…. emang segampang itukah kita melakukan reformasi?
Islam itu cinta damai mbak! Lagian apakah pengen Negara
kita bernasib sama seperti saudara-saudara kita yang ada di mesir, suriah, afrika dan
yang lainnya?”
Tuuuut…
obrolan kita terputus karena ternyata sahabat saya itu sedang dikelililingi teman-teman satu harokahnya.
Ouwh…. Padahal ana belum sempat cerita mengapa ana semakin yakin dengan tarbiyah!
Ya sudahlah ana tuliskan disini.
Sebagai catatan awal mengapa ana memilih tarbiyah dan yang paling
mantapks dihati ana ya tarbiyah!
Gini ne ane mengenal tarbiyah beberapa tahun silam.
Saat itu ane masih duduk dikelas satu aliyah. Ane mengenal tarbiyah dari ustadzah ane yang
alumni sebuah universitas dijakarta.Waah semangatnya keren!
Saat itu ane tidak tahu jelas. Yang
jelas dari mentoring yang diberikan ustadzah tiap hari jumat sore ane jadi semangat. Ya
agenda diluar agenda harian ma’had yang buat ane terlalu monoton. Ada games,
ada materi, ada tahsin, ada curhat, ada canda, ada tawa disana sini.
Bahkan dulu ustadzah ane dengan semangatnya untuk mendaftarkan ane untuk menjadi anggota
**s.
Saat itu ane belum tahu apa tarbiyah. Setelah ane kuliah ane direkomendasikan untuk masuk sebuah organisasi kampus. Dengan mantabnya dan seyakin-yakinnya ane bergabung dalam organisasi tersebut.
Yaaah walaupun hamper nyasar kedalam organisasi sebelah.
Awalnya ane ga tahu,
ane hanya menuruti apa yang direkomendasikan ustadzah ane. Setelah nyemplung disana,
ane baru ngeh kalau itu namanya jama’ah tarbiyah.
Tahukah
kalian? Bahwa jalan tarbiyah ane tak semulus yang
dibayangkan. Ane sempat kecewa. Kenapa? Saat itu ane masih dalam tahapan proses
pembenahan diri, eh mas’ul ane nyeletuk “mbak-mbaknya yang
masih pake celana,yang jilbabnya masih nerawang tolong dirubah ya”.
Gubrak dah! Belum apa-apa udah dikasih
ultimatum seperti itu. Sontak temen-temen ane yang nota
bene juga sama asal usulnya seperti ane langsung . Bak daun jati yang
berguguran di musim panas. Seiring dan sejalan, akhirnya teman-teman ane yang
dulu sekian banyak kini hanya tersisa beberapa saja.
Ane juga akhirnya mundur pelan-pelan. Eh
jarang nongol maksudnya hehe. Tapi bukan berarti ana berhenti dari tarbiyah. Ana terus tarbiyah tapi lewat dunia maya maksudnya. Disebuah aplikasi
chatting. Disana ana ketemu dengan orang-orang
tarbiiyah. Ane malah banyak tahu dari sana.
Disaat seperti itulah temen-temen bukannya merangkul eh malah mencibir. Kecewa berat! Bahkan ana sampai ingin pindah harokah!
Tapi sekali lagi kecewa bukan berarti ane harus berhenti dari tarbiyah!
Ane terus mencari dan ikut tarbiyah dengan minta dicarikan halaqoh baru. Dihalaqoh baru,
ana kecewa lagi.Kenapa? Karena kebetulan waktu itu dapattemen yang sudahpadakerja yang
biasanya datangnya suka telat! Padahal sudah ana bela-belain bersepeda beberapa kilo
selama kurang lebih setengah jam.Kadang ana harus pulang malam.
Berhenti tarbiyah? Ngga! Dan
ga bakalan! Ana malah masuk sebua hpesatren mahasiswi yang penghuninya orang-orang
tarbiyah atas usulan salah satu teman chatting (nah lho,
diambil hikmahnya aja nyasar kedunia maya!Hehe).Disana ana digembleng dengan materi-meteri
yang (sering) ga nyambung dengan rujukan buku-buku tarbiyah yang
ana baru tahu wujudnya dan baru bisa ane beli (hihi…).
Dan sekarang pulang dari tanah rantau,
ana baru bisa merasakan “nikmatnya” medan baru yang dulu sempat dikhwatirkan ustadz.
Karena tak semudah ditanah rantau,
disana kader tarbiyah bertebaran dimana-mana dengan fasilitas dan akses yang
tergolong mudah. Sekarang medan cukup terjal dengan onak dan duri.
Mau berhenti tarbiyah lagi?Ngga dong…
justru ana semakin jatuh cinta dengan tarbiyah! Hehe.
Wahaisaudaraku… kekecawaanmu terhadap tarbiyah tak bisa kau jadikan alasan untuk keluar dari tarbiyah. Karena sesungguhnya itu adalah bukti bahwa engkau belum mengenali
kami.Engkau hanya kenal kami dari cover luar kami yang
terkadang terdapat cacat disana sini, kadang terlihat kuno, kadang tidak menarik.
Maka jika engkau belumt ahu kami,
maka cari tahulah kami. Jika itu belum membuatmu puas, dan menemukan apa yang
engkau cari maka kenalilah kami lebih dalam. umpama kami adalah sebuah buku,
engkau tak bisa menilai hanya dari covernya saja atau synopsis dan opini sekilas.
Tapi jika engkau mau membaca seluruh isinya niscaya engkau akan tahu apa isi buku tersebut dan menemukan sejuta hikmah didalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar