Selasa, 04 Desember 2012

rumah cahaya part 1



Hari ini, aku mulai pindah kesebuah rumah. Asma Amanina orang-orang biasa menyebutnya. Heran melihat bangunannya. Seperti bukan sebuah pesantren. Kulihat sekelilingnya, didepan berdiri kokoh sebuah rumah tingkat dua, masuk lagi sebuah bangunan kamar-kamar berderet tingkat 2 dengan taman dan tempat parkir didepannya. Kata teman-teman sih itu kantor IKADI dan rumah ustadz. Aku terus melangkah kedalam, suara sendal jepitku menggema diantara lorong tempat parkir. Sampai aku tiba didepan sebuah pintu masuk. Dari luar terdengar olehku suara merdu lantunan ayat Al-quran. Aku lalu berdiri sejenak, menikmati suara itu. Suara yang sangat merdu. Suara yang mirip suara guru tahsinku di FOSDA.
“santri baru ya?”tanya salah seorang akhwat masih mengenakan mukenah.
“iya mbk”aku mengangguk malu.
“ayo mbak antar kekamar. Nanti kamarmu disebelah sana. Satu kamar sama Kholiah. No 2 dari dapur”mbak itu lalu menunjukkan kamar yang akan aku tinggali.
Aku lalu berjalan kedalam. Sambil menenteng tas ransel dipunggung. Semua orang menyapaku “waah ini ya santri barunya” aku hanya menyunggingkan senyuman yang paling manis. Hehe. Sambil melihat kiri kanan jalan. Ya itu ruang keluarga, itu jemuran 1 dan jemuran 2, dan ini dapur. 1, 2 yupz!ini kamarku. Segera kuucap salam. Sambil kubuka pelan pintu. Seorang akhwat sudah menyambutku dari dalam. Dengan senyum ceria. Dengan hiasan kamar yang unik. Selamat datang dikamar kita. Kata yang ditulis dikertas asturo warna-warni yang indah, membuatku tersanjung. Haha jarang-jarang disambut dengan kayak ginian. Aku lalu meletakkan tasku. Dan duduk dilantai. Kami lalu saling memperkenalkan diri. aku mengganti nama panggilanku menjadi “Nur” itu sebagai nama hijrahku. Nama panggilan baru didunia baru. Setelah nama panggilan Hida yang membawaku kealam maya dengan berbagai tingkahku disana. “aku Kholiah Febriani, panggilannya ikhal atau kholiah” katanya kepadaku. Sembari menata bajuku kami lalu ngobrol panjang lebar kesana kemari. “kok bisa sih mbak tahu Asma?” tanya Kholi. “hehe iya, dulu mbak tahu dari seorang teman chatting dimig33. Mbak Nivah namanya. Anak psikologi ugm 2006. Beliau maen kekost mbk. Dan karena liat kondisi kost mbk yang seperti itu, beliau lalu menyarankan mbk ke Asma. Kebetulan waktu itu dibuka pendaftaran santri baru. Mbak lalu dikasih no mbk Adis. Kami lalu janjian. Tapi karena mbk Adis ga bisa, mbak lalu ketemu sama mbk Ngesti di Mardhiyah. Mbk dikasih formulir pendaftaran sama mbk Ngesti. Tapi karena mbk sama sekali ga tahu Asma, ga tahu dimana tempatnya, pengembalian formnya mbk tunda terus sampe pendaftaran ditutup. Dan akhirnya mbk ga jadi daftar. Tapi dalam hati, saat romadhon mbk berdoa semoga suatu saat mbk bisa keterimah di Asma Amanina”ceritaku panjang. “oooh....”kata Kholi bulet. “lha terus, kemaren kok tahu info ini dari siapa?”tanyanya lagi. “ya kemaren mbk lihat salah seorang akhwat yang memakai jaket asma. Mbk lalu tanya-tanya. Tapi katanya dibuka pendaftaran lagi 2 tahun lagi. Mbak itu lalu bilang biasanya kalau ada yang keluar nyari pengganti. Mbk lalu disuruh tanya mbk Rahmi. Dan setelah ketemu mbk Rahmi ternyata dibuka pendaftaran, tapi cuman beberapa orang. Mbk lalu daftar bareng mbk Rahmi keasma. Dari situ mbk tahu Asma”kataku panjang. Adzan isya’ berkumandang, Kami lalu mengakhiri obrolan kami.
***
Bel berbunyi, semua santri bergegas menuju kelas. Malam ini malam ahad, tapi santri tetap diminta untuk kekelas. Ya, ga ada agenda lain selain memperkenalkan santri baru kepada semua pengguni asrama. Semuanya duduk berjejer dikelas. Sementara salah seorang pemandu “ammah puji” teman-teman biasa memanggilnya duduk didepan. Memimpin acara ini. “deg!!!namaku dipanggil” kataku dalam hati saat dipanggil kedepan untuk memperkenalkan diri. “namaku Siti Nihayah Istikomah, panggilannya Isti....bla....bla...” mike lalu berpindah kesampingnya “namaku Fathimah Nur Istiqomah. Panggilannya isti juga. Tapi karena disini sudah ada nama isti jadi panggilannya fathimah saja.....dan blaa...blaa...” dan mikenya pun berpindah kepadaku. Gemetar. Gugup. Aku terdiam sejenak.”ngg.....langsung saja namaku Sri Hidayati Nur. Panggilannya Nur....bla...bla....”. ammah puji lalu memperkenalkan semua perarturan asma amanina. Kami lalu berksalaman dan berkenalan. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 09.30. kami lalu berjalan menuju kamar masing-masing. Sunyi. Hening semua terlarut dalam mimpi. Sementara aku hanya memandangi langit-langit kamar yang dihiasi bintang-bintang plastik yang memancarkan cahaya warna hijau. “alhamdulillah akhirnya aku bisa masuk sini. Lingkungan yang nyaman. Terimah kasih ya ALLAh, engkau telah menjawab doaku selama romadhon kemaren....”desahku lirih.

Rumah cahaya, sabtu 12 juni 2010

BERSAMBUNG!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar