“Daaaaaaakhilun, Dakhiiiiiiiiiiiiiiiiiiilun.....” aku, mbk Isti dan Fathimah serempak membaca
jilid 2, ya setelah kemaren tes sama ‘Ammah Nuri, kami semua ditaruh dijilid 2.
Waaaah ketinggalan jauh sama teman-teman yang dah di Asma duluan. Mereka ada
yang sampai jilid 5 paling rendah dan ada yang sampai ghorib dan tajwid.
Ruangan kantor ini terasa semakin nyaring. Kaget setengah kaget. Beberapa hari
yang lalu kami sama ‘ammah irma khuzaemah dengan bacaan pelan, eh sekarang
dipindah sama ‘ammah mislina. Mendadak kami diminta baca keras, volume paling
puooool, sampe-sampe tenggorakan kering.WoW! ya wajar sih, aku yang nota bene
alumni metode al-karimah dengan suara lembut and slow, mendadak diganti sama
qiroati. Yang cara bacanya keras tegas dan lugas. Tapi tetap teliti.
“nur!!!kurang keras
bacanya!!!”glek....suara ‘Ammah Mis mengagetkanku.
“eh iya mbk”aku
mencoba mengeluarkan volume paling keras.
Kami lanjut baca
klasikal sampai selesai, ya lumayan. Ada sekitar 12 halaman yang kudu dibaca,
dengan suara keras bin lantang. Ga boleh salah. Kalau salah wajib diulangin.
Mantabh!!!
“horeee aku lulus mbk Nur”kata mbk Isti kegirangan. Waduh giliranku setor ne. Aku lalu maju kedepan
‘Ammah Mis. Gemeter rasanya.
“ulangi!!!”
“ban...bin....bun...”kataku
pelan
“senyumnya
mana...senyumnya mana”kata ‘Ammah Mis tegas. Aku hanya meradang dalam hati.
“addduh maaaak sulit kali ne Qiroati. Ga sabar awak”
“huft!”desahku seusai
setoran.
“kenapa mbk Nur?”tanya
mbk Isti heran melihatku.
“gapapa mbak, aku ga
lulus”jawabku sambil menarik napas dalam-dalam.
“nuuuuur....jangan
ngobrol!baca jilidnya 5 kali. Awas besok kalau sampai kamu ga lulus”suara
‘Ammah Mis mengagetkanku “huaaah aku ga kuat ibu L”
**
“mbk, ntar aku izin
duluan ya. Habis ini aku mau pulang kegresik”kataku pelan sama ‘Ammah Yanti
keesokan harinya. Ya karena ‘Ammah Mis ga bisa ngajar akhirnya guru ngajinya
diganti sama ‘AmYan.
“udah kamu ngaji
dulu”kata ‘Ammah Yanti setengah ngebentak.
“ih iya mbk” aku lalu
diam. Sambil membaca jilid dalam hati. Kuamati dalam-dalam huruf-huruf yang ada
dalam jilid 2. Perasaan sama kayak dulu belajar ngaji waktu kecil. Ada yang
bengkok, tegak lurus, ada yang melungker-melungker. Tapi kok cara bacanya beda
ya. Harus mangap, mencucu, meringis, apa lagi itu...ampuuun dah :(
“Nur!!!baca yang
keras!!!haddeuw belum juga angkat mulut buat baca udah dapat hadiah lagi.
“iya mbk”kataku
langsung baca jilid dengan suara paling keras.
“hari ini kamu ga
lulus lagi nur”kata ‘ammah yanti setelah aku maju setoran. Aku hanya bisa
menelan ludah. “besok lagi yang serius!!!mbak ga mau lihat kamu kayak gini
lagi. Bacanya salah-salah”aku hanya meradang. Ga kuat. Diem. Mendung mulai
menggelayuti wajahku. Pleaseeee....jangan hujan dulu. Bisa bahaya ne. Malu aku
sama ‘amyan dan teman-teman.
“kenapa mbk nur?”tanya
mbak isti saat melihat gerimis diwajahku.
“ngga mbak, ga
apa-apa”aku langsung ngeloyor kekamar. Karena emang ngajinya udah selesai. Kalau
ga ya, mana berani.
“lho mbak nur kenapa?”tanya
kholiah sesampai ku didalam kamar.
“ngga apa-apa Khol.
Cuman tadi habis dimarahin mbak Yanti aja. Katanya mbak ga serius”kataku
semakin ga bisa menahan tangis.
“ya emang gitu mbk.
Kita emang harus tegas. Ga boleh leda-lede. Mangapnya harus sempurna, suaranya
juga harus keras.”
“sabar ya mbk. Mbak
pasti bisa melewati semuanya”kata Kholiah mencoba menguatkanku (terimah kasih
banyak yaaa Khoooool... co cweeeeeeeeeeeeeeeet J)
Rumah Cahaya, 22 juli
2010
BERSAMBUNG!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar