“kenapa?masalah jodoh lagi mak?”tanyaku agak sinis.
“ya iya nduk, usiamu kan sekarang sudah kepala tiga”emak menghela
napas panjang.”apa kata orang nduk, emak malu anak perawannya ga kunjung
nikah”aku hanya diam mendengar kata-kata emak. Kuperhatikan wajahnya
dalam-dalam. Tak terasa buliran kristal perlahan jatuh meleleh diatas wajahku.
“kamu itu cantik, pinter, lulusan s1 IAIN sunan ampel, tapi kamu
pendiem dan terlalu pilih-pilih” suara emak terdengar lirih. Kulihat
gurat-gurat kesedihan yang amat dalam dirinya.
“emak, maafin Rina mak. Rina akan
berusaha untuk mencari jodoh itu”bisikku berlalu meninggalkan emak sendirian
diruang tengah. Tak ingin suasana semakin memanas seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Memang sejak bapak meninggal 20 tahun silam, emaklah yang berjuang keras
menghidupi kami sekeluarga. Berbagai usaha dicobanya. Dari usaha konveksi
mukenah yang dulu dirintis sama bapak, sampai usaha kontrakan rumah. hingga
akhirnya aku bisa menamatkan pendidikan s1 ku di IAIN sunan ampel.
**
Dirumah ukuran 30 x 8 meter ini kami tinggal bertiga dengan risya.
Sudah 20 tahun sejak risya masih berusia 2
tahun, entah karena sebab apa, tiba-tiba badan bapak panas dan keesokan harinya meninggal. Kata emak sih, bapak punya penyakit yang tidak
diketahuinya. Bapak memang keras, suka maen tangan. Kerjanya sehari-hari hanya
membantu konveksi jahitan emak. Itu yang membuatku pilih-pilih soal jodoh.
Trauma dengan kejadian yang dialami emak.
“iya ni mak, awal dulu kami kenalan sih baik. Tapi sekarang kok
jadi kasar begini” sayup-sayup
kudengar suara mbak Tiara dari
dalam. Membuatku semakin takut dan trauma akan masalah itu.
“yang sabar ya nduk. Mungkin itu cobaan buat kamu” emak
mencoba menenangkan.
“iya mak, tapi lama-lama ga kuat juga”lanjut mbak Tiara.
Suaranya mulai serak.
Aku mendesah. Kusandarkan tubuhku kedinding kamar yang sudah mulai
usang. Tak ingin kudengar suara mbak tiara lagi. Tak ingin diri ini semakin
trauma. Tak ingin emak kecewa lantaran belum jua kutemukan sosok yang pas buat
calon ayah bagi anak-anakku.
“Rin, gimana lamaran kerjamu kemaren?”tanya emak tiba-tiba
“belum tahu mak”kurebahkan tubuhku diatas kasur.
“lho emangnya kamu sudah naruh dimana aja”tanya emak lagi
“di SMA NU, di SMA M, tapi belum ada panggilan mak”jawabku sambil
melipat pakaian yang sedari tadi memenuhi kasur usang peninggalan bapak ini
“gak apa apa
nduk. Mungkin itu belum rejekimu. Insyaallah emak masih bisa biayain kamu dan
adekmu”kata emak turut membantuku melipat pakaian.
Hening. Dalam kebisuan kami, tangan kami sibuk melipat pakaian. Tak
ada sepata katapun yang keluar. Aah emak, aku tahu kini engkaupun sedih
memikirkanku. Sindiran ebek, dan pakwak beberapa hari yang lalu membuatku
semakin tertekan. Kerja ngga dapat-dapat. Begitu pula dengan jodoh. Berbagai
usaha sudah kulakukan, melamar kerja kemana-mana, minta dicarikan guru ngaji,
bahkan emak sengaja mengajakku dan Risyah pergi umroh agar bisa berdoah di Jabal
Rahmah.
**
Suasana masjid masih terlihat ramai oleh
para jam’ah yang hendak pulang. Tak seperti biasa, kajian minggu ini diisi oleh
ustadz Syafi’i Masykur, ustadz kocak dikampungku. Materi yang disampaikanpun
cukup menarik yakni kiat menjadi ibu dambaan keluarga. Alhamdulillah, para
jama’ah cukup antusias untuk mengikuti pengajian ini.
“mbak Rina”panggil Ummi Yuni, istri dari
ustadz Syafi’i yang kebetulan ikut hadir dalam pengajian ini.
“iya Ummi, ada apa?”kupalingkan wajahku,
lalu kucium tangan ummi sebagai bentuk rasa ta’dhimku pada beliau.
“besok sore bisa ketempat ummi?”Tanya ummi
“insyaallah bisa ummi. Kebetulah besok Risya
yang bantu emak”
“kalau gitu baiklah, besok ummi tunggu
dirumah ya. Ada yang ingin ummi bicarakan sama mbak Rina”
“njih mi. insyaallah besok saya kesana”
“ya sudah, ummi duluan ya. Kasian Aisy
sudah nunggu dirumah. Assalamualaykum”
“iya mi, waalaykumsalam”jawabku
sambil terus memandangi ummi yang perlahan hilang dari pandanganku. Sementara
kudengar sayup-sayup suara emak dari ujung sana. Sejenak kupalingkan wajahku.
Kulihat emak tengah berkumpul dengan para jam’ah lain. Saling bercengkeramah satu
sama lain bercanda dan tertawa.
“oh iya mak, denger-denger Rina dulu pernah
dilamar dosen ya mak?”Tanya salah seorang tetanggaku.
“iya, benar”jawab emak.
“trus?kenapa ga diterimah?kan dosen lho
mak. Jarang-jarang ada yang dapat dosen
dikampung kita”yang lain menyahut. Kulihat emak hanya menanggapinya dengan
senyuman.
“oh iya mak, kenapa si Rina ga dijodohin
saja sama anaknya pak RT?dia lulusan ITS lho mak, sekarang sudah kerja
diperkapalan”
Bla…bla… kututup telingaku rapat-rapat. Ga
kuat mendengar percaakapan mereka. Segera kulangkahkan kakiku keluar area
masjid.
**
“Rin, kemaren emak sudah membeli sebuah
ruko didepan kantor pusat petrokimia” kata emak sambil menyodorkan sebuah
sertifikat tanah.
“emak?buat apa mak?bukankah penghasilan
emak selama ini sudah lebih dari cukup untuk kehidupan kita?”
“emak ingin, nanti toko itu kita jadikan
toko jajanan khas gresik dan nanti kamu dan adekmulah yang akan jaga toko
itu”kata emak lagi membuatku tertegun tak bisa berkata apa-apa.
“Rin, kamu bisa kan bantu emak?”
“bukannya emak ngga mau menanggung kamu dan
adekmu. Tapi emak ingin seenggaknya kamu punya kesibukan. Emak juga ngga ingin
kamu hanya berdiam diri, sambil menunggu jodoh dan panggilan kerja datang”suara
emak semakin lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
“iya mak. Nanti rina yang akan jaga
tokonya. Apapun yang emak pintakan akan Rina lakukan sebisanya” kataku sambil
merangkul emak yang tetengah duduk dikursi ruang tengah.
**
“assalamualaykum”kataku sesampai didepan rumah ummi yuni.
“assalamualaykum”kataku lagi, sambil
kupencet bel beberapa kali.
“waalaykumsalam…”jawab ummi yuni,
seraya membukakan pintu dan mempersilahkankanku masuk.
“sebentar ya mbak, ummi buatkan minum”ummi
yuni masuk kedalam rumah. Beberapa menit kemudian beliau sudah kembali dengan 2
gelas sirup dan beberapa kaleng cemilan.
“mari silahkan diminum mbk”kata ummi sambil
menyuguhkannya kehadapanku.
“iya mi ,
terimahkasih”kataku sambil senyum.
Diam…
“oh iya ummi, kemaren ummi meminta saya
kesini ada apa ya mi?”tanyaku memecah suasana. Ummi terdiam.
“gini mbak, sebenarnya maksud ummi meminta
mbak Rina kesini ada yang ummi sampaikan”kata ummi beberapa saat kemudian.
“apa itu mi?”tanyaku penasaran
“gini mbak, kemaren ponakan ummi yang di Madiun
telepon ummi”
“terus?”
“iya, dia minta dicarikan calon sama ummi”
“hmm…maksudnya calon istri mi?”
“iya” ummi mengangguk
“lantas kenapa ummi memanggil saya?”
“ya, ummi rasa mbak Rina orang yang cocok
buat dia”
“ummi…”kataku tak percaya. kupandangi wajah
ummi. “ummi ga salah orang kan?”
“ngga mbak Rina” ummi menggeleng.
“baiklah mi, akan saya istikhorohkan dulu”
“lho, apa ndak sebaiknya kalian ketemu
dulu?”
“ngga mi. biar hati saya netral. Nanti
setelah saya mantab baru ummi bisa mempertemukan kami”
“baiklah kalau gitu. Ummi tunggu 2 minggu lagi
ya mbk”
“iya mi. insyaallah 2 minggu lagi saya akan
kesini”
“oh iya, kok jadi tegang gini, mari diminum
mbk”
“ngg…saya langsung pamit pulang ya mi.
sudah sore. Nanti keburu maghrib” pamitku pada ummi, “assalamualaykum”
kataku sambil cepat-cepat berlalu meninggalkan rumah tak berpagar ini.
**
Sudah hampir seminggu ini malam-malamku kuisi
dengan istikhoroh. Doa-doa dalam istikohoroh cintaku, kupanjatkan pada sang
Maha Tinggi penguasa alam ini. Selebihnya mataku sulit terpejam hingga fajar
datang. Ya Robbi, beri hamba petunjuk-MU. Hamba tahu apa yang kini sedang
dirasakan emak. Emak pasti terbebani karena hamba tak kunjung juga dapat kerja
ataupun menemukan jodoh.
Pelan-pelan kudengar suara pintu terbuka.
Kulihat emak dari balik jendela kamar sedang berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian beliau sudah kembali dengan wajah yang basah oleh air
wudlu.
Lantunan takbir, dzikir panjang menyebut
asma-Nya, memuji dan mengadu pada-Nya terdengar jelas dari kamarku. Kudekatkan
wajahku kepintu. Kulihat emak dengan sujud panjangnya diruang sholat. Perlahan,
matanya mulai sembab oleh butiran Kristal yang jatuh dari matanya.
“aah emak, maafin Rina ya maak…” kataku
lirih.
**
“Rin, denger-denger kamu mau dijodohin sama
ponakannya ummi Yuni ya?”suara Alfi mengagetkanku.
“hush!!!kata siapa kamu Fi?”aku balik Tanya
“nggggg… denger-denger saja sih. Emang
bener ya rin?”Tanyanya lagi membuatku kesal.
“iya” akhirnya aku menyerah. “tapi kamu
jangan bilang siapa-siapa ya Fi, soalnya aku belum manteb Fi”lanjutku
“lho kenapa?bukannya ponakannya ummi Yuni itu
baik, sholih, alumni ITB, aktivis pula. Kurang apalagi sih Rin?”
“aku ngga tahu kalau itu Fi, yang penting
aku belum sreg aja Fi”
“hmm…jangan bilang kamu masih trauma sama
emak dan bapakmu. Atau jangan-jangan kamu sudah netapin kriteria khusus buat
calonmu Rin”
“udahlah Rin, kamu ga usah pilih-pilih.
Kamu ingat kan nasehat ustadz Sholihun beberapa waktu lalu, “mbak, ga usah
terlalu netapin banyak kriteria. Yang penting sholat lima waktunya bagus itu
sudah ni’mat dunia akhirat”
Kami saling diam. Pikiranku mencoba mencari
alasan yang tepat untuk menyangkal argument Alfi.
“sebenarnya bukan karena itu juga Fi”
“lantas karena apa Rin?”
“aku ingin persiapan dulu saja Fi. Aku
ingin mempersiapkaan diri agar lebih matang saja”
“Riin…!!!! apa lagi yang mesti kamu
persiapkan? Bukankah kamu sudah mempersiapkan semuanya? Kamu nunggu
apalagi?nunggu sampai beruban?”ledek Alfi
“Fi, kamu tahu kan sekarang posisiku
seperti apa?kerja? belum dapat. Pinter? Kamu tahu kan IPK ku pas-pasan. Masih
untung diatas 3. Akhlak? Itu juga mesti diperbaiki. Masih banyak hal yang perlu
diperbaiki Alfi!!!”aku mencoba mengelak.
“Apa kamu lupa apa yang disampaikan ustadz
saat kita masih di Surabaya dulu. “mbak, persiapkan diri agar siap menerimah
pasangan kita apa adanya. Sekarang belajar yang rajin, siapa tahu nanti dia
bukan orang yang pandai maka kitalah yang akan berbagi ilmu dengannya.
Persiapkan diri secara financial, siapa tahu nanti dia bukan orang yang mapan,
maka kitalah yang akan membantu ekonominya. Dan perbaiki akhlak kita, siapa
tahu nanti dia bukan orang yang baik, maka kitalah yang akan meluruskan
akhlaknya”lanjutku
“kamu ingat itu kan Fi?”kataku meyakinkan
Alfi.
“iya Rin, aku ingat. Dan sangat ingat” kata
Alfi. Seolah kena skak mat oleh kata-kataku.
“tapi ga gitu juga kali. Masak ada orang
sholih mau datang melamar pake acara ga manteb segala” Alfi ngeloyor pergi.
**
Malam ini benar-benar membuatku gelisah.
Esok aku harus ketemu ummi Yuni. Sementara sampai sekarang tak jua kutemukan
kemantaban hati. Sehingga belum kuberanikan diri untuk bicara sama emak.
“Rin, emak mau bicara sama kamu”suara emak
mengagetkanku. Kulihat sisa butiran Kristal masih membanjiri pipinya yang mulai
kriput.
“bicara apa mak?”tanyaku sambil melepas
mukenahku.
“apa benar ummi Yuni menawarkan ponakannya
sama kamu?”Tanya emak lagi. Kali ini begitu serius. Kubetulkan posisi dudukku
menghadap ke emak yang duduk di atas dipan. Kutatap wajah emak dalam-dalam.
“iya mak”anggukku pelan. Tak terasa sungai
kecil telah mengalir disela-sela pipiku. Membasahi jilbab unguku.
“lantas apa jawabanmu nak?”
“Rina belum ngasih jawaban mak”
“kenapa begitu?bukannya keluarga ummi Yuni
itu keluarga yang baik. Semua keponakannya lulusan Sarjana. Bahkan ada yang
kuliah di Mesir dan di Sudan. Dan hampir semuanya hafal quran”
“entahlah mak, sampai sekarang rina belum
mantab. Sementara esok, rina harus ngasih jawaban sama beliau”anak sungai
dipipiku semakin deras. Kurasakan tangan halus emak mulai mengusap-ngusap
kepala.
“ya sudahlah nak, kalau memang kamu belum
mantab emak ngga mau memaksamu”kata emak seraya bangkit dan meninggalkanku
sendiri.
**
“kamu sudah siap kan rin?”Tanya emak
keesokannya.
“iya mak. Sebentar lagi ya”jawabku sambil
membetulkan jilbab unguku.
“lho mak, kenapa ada banyak makanan diruang
tamu?”Tanyaku heran saat melihat beberapa sesuguhan tamu dimeja ruang tamu.
Emak hanya senyum.
Sepuluh menit kemudian terdengar suara salam yang
diiringi ketokan pintu dari luar.
“waalaykumsalam”jawabku sambil membukakan pintu.
“ummi?”kataku setengah tak percaya saat melihat ummi
yuni beserta ustadz syafi’i masykur dan seorang pemuda yang berdiri
dibelakangnya. “Hmm… sepertinya aku mengenalnya. Iya, dia cak bustan. Keponakan
ummi yuni yang kuliah di ITB.”pikiranku mencoba menebak-nebak.
“mari masuk. Ummi, ustadz, dan… cak bustan bukan?”
“iya”jawab pemuda ini sambil menyunggingkan senyuman
khasnya.
Mereka lalu duduk. Sementara aku masuk kedalam
memanggil emak. Emakpun segera keluar. Dan aku, hanya menunggu dari balik tirai
ruang tengah. Kudengar jelas suara obrolan mereka. Aku tahu maksud dari
kedatangan ummi yuni dan keluarga kesini. Aah..kenapa aku jadi seperti ini?cak
bustan. Orang yang dulu sempat aku kagumi. Kini datang kerumah untuk melamarku.
Aku memang mengenal betul sikap dan perangai cak
bustan. Dulu kami sempat akrab. Kami bak saudara meski tetap menjaga jarak.
Namun jarak dan ruang telah memisahkan kami. Setelah tamat di madrasah aliyah,
cak bustan memutuskan untuk kuliah di ITB. Selang 2 tahun kemudian diriku yang
merantau ke Surabaya.
Sudah 5 tahun ini kami lost kontak. Sampai akhirnya
kudengar kabar cak Bustan di terimah
menjadi PNS di Madiun. Dan sekarang?dia dirumahku untuk melamarku.
“rin, ayo keluar nak. Ada yang ingin kami bicarakan
sama kamu”pinta emak membuyarkan lamunanku.
“eh iya mak”aku segera menuju ruang tamu yang hanya
berbatas dinding dari ruang tengah.
“rin, apakah kamu mau menjadi calon ibu bagi
anak-anakku nanti”cak bustan memulai pembicaraan. Aku hanya diam. Ga tahu apa
yang harus kukatakan.
“emak sudah menyetujuinya” kata emak. “sekarang
tinggal menunggu jawabanmu”lanjut emak. Aku masih diam. Kupandang ujung
jilbabku yang sedari menjadi mainan jari jemariku.
“rin?”Tanya emak lagi
Diam. Sunyi. Hening. Semuanya bersiap menunggu kata-kata
yang keluar dariku.
“iya mak”jawabku sambil menyunggingkan senyum
terindahku. Semuanya mengucap syukur. Seolah banyak malaikat yang berkerumun,
suasana rumah ini terlihat lebih cerah dari biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar