Senja
menyapa merapiku, angin sepoi dan matahari yang malu-malu
menyembunyikan wajahnya serta semua pemandangan indah dikiri kanan
kami juga turut ikut mengiringi perjalanan kami menuju sebuah dusun
kecil dikaki merapi. Srunen!
Hmm…
agaknya perjalanan kali ini tak seperti biasanya. Kalau dulu kami
biasa melewati daerah cangkringan, dengan sungai dan jembatan yang
rusak karena dilalui lahar dingin, serta batu besar seukuran rumah
yang berada tepat ditengah jalan menuju jembatan, kali ini kami
berubah arah lewat kali gendol.
Baru
dua kali ini aku ikut ustadz melewati jalan ini. Jalanan yang
dikiri-kananannya lahar dingin, dengan asap yang masih mengepul.
Subhanallah! Luar biasa. Kali gendol yang rusak, dengan lahar dingin
yang masih mengeluarkan asap, kiri kanan bukit yang sangat tinggi,
truk-truk yang lalu lalang mengangkut pasir lahar dingin. Kami
seoalah menjadi saksi keganasan lahar dingin, saksi kebisuan merapi
yang diam-diam terus memuntahkan isi perutnya.
Ada
yang seru dari perjalanan kali ini. Setelah sampai dikali gendol,
ternyata jalanan yang biasa dilalui rusak. Wal hasil kami ndak bisa
lewat. ustadz turun Tanya sama orang-orang disekitar situ. Ustadz mau
putar balik kejalan yang dibawah, tapi tidak bisa. Tak kebayang waktu
itu didepan kami jurang yang menganga. Dalam hati aku cuman bisa
panic, sambil terus menyembut nama-NYA. Kadang aku berpikir,
bagaimana kalau sedkit saja ban melesat? Upz! Akhirnya ustadz putar
balik diatas.
Kami
mulai lewat jalan bawah, daaaan…… ketika mau naik, mobil kami
tidak bisa naik karena jalanan yang masih berpasir dicampur bebatuan.
Kami berempat lalu turun ikut mendorong mobil ikadi ini. Aksi
dorong-doronganpun terjadi. Namun tak membuahkan hasil. Akhirnya
ustadz meminta kami supaya berhenti mendorong saja.
Ustadz
lalu maju mundur, seperti orang yang sedang lihat road coaster
ditengah gurun lahar dingin, mobil ikadi ini maju mundur, kadang
macet karena pasir dan bebabtuan. seru! Wah kalau ada ummi pasti
lebih seru lagi ini ya.. hehe
Sampai
kemudian mobil kami bisa naek, Alhamdulillah… suara kami lega. Dan
perjalanan dilanjutkan sampai kesebuah dusun kecil dikaki merapi,
Srunen. Dulu nama ini terasa asing bagiku. Namun lama-kelamaan nama
ini begitu melekat dihatiku, seiring dengan sapa hangat warga yang
selalu tersenyum ramah menyambut kedatangan kami.
Sampai
dimasjid nurul huda srunen, kami langsung disambut sapa hangat warga.
“lho
mbak, katanya pulang kegresik?” Tanya bu dukuh dan beberapa ibu
lainnya yang mengira kusudah berangkat kegresik. Aah ibu, belum bu.
Aku masih ingin disini. Aku masih ingin ikut ustadz kesini, berjumpa
dengan ibu-ibu semua….
(bersambung…)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar