Rabu, 05 Juni 2013

catatan kecil perjalanan kesrunen


Senja menyapa merapiku, angin sepoi dan matahari yang malu-malu menyembunyikan wajahnya serta semua pemandangan indah dikiri kanan kami juga turut ikut mengiringi perjalanan kami menuju sebuah dusun kecil dikaki merapi. Srunen!
Hmm… agaknya perjalanan kali ini tak seperti biasanya. Kalau dulu kami biasa melewati daerah cangkringan, dengan sungai dan jembatan yang rusak karena dilalui lahar dingin, serta batu besar seukuran rumah yang berada tepat ditengah jalan menuju jembatan, kali ini kami berubah arah lewat kali gendol.
Baru dua kali ini aku ikut ustadz melewati jalan ini. Jalanan yang dikiri-kananannya lahar dingin, dengan asap yang masih mengepul. Subhanallah! Luar biasa. Kali gendol yang rusak, dengan lahar dingin yang masih mengeluarkan asap, kiri kanan bukit yang sangat tinggi, truk-truk yang lalu lalang mengangkut pasir lahar dingin. Kami seoalah menjadi saksi keganasan lahar dingin, saksi kebisuan merapi yang diam-diam terus memuntahkan isi perutnya.
Ada yang seru dari perjalanan kali ini. Setelah sampai dikali gendol, ternyata jalanan yang biasa dilalui rusak. Wal hasil kami ndak bisa lewat. ustadz turun Tanya sama orang-orang disekitar situ. Ustadz mau putar balik kejalan yang dibawah, tapi tidak bisa. Tak kebayang waktu itu didepan kami jurang yang menganga. Dalam hati aku cuman bisa panic, sambil terus menyembut nama-NYA. Kadang aku berpikir, bagaimana kalau sedkit saja ban melesat? Upz! Akhirnya ustadz putar balik diatas.
Kami mulai lewat jalan bawah, daaaan…… ketika mau naik, mobil kami tidak bisa naik karena jalanan yang masih berpasir dicampur bebatuan. Kami berempat lalu turun ikut mendorong mobil ikadi ini. Aksi dorong-doronganpun terjadi. Namun tak membuahkan hasil. Akhirnya ustadz meminta kami supaya berhenti mendorong saja.
Ustadz lalu maju mundur, seperti orang yang sedang lihat road coaster ditengah gurun lahar dingin, mobil ikadi ini maju mundur, kadang macet karena pasir dan bebabtuan. seru! Wah kalau ada ummi pasti lebih seru lagi ini ya.. hehe
Sampai kemudian mobil kami bisa naek, Alhamdulillah… suara kami lega. Dan perjalanan dilanjutkan sampai kesebuah dusun kecil dikaki merapi, Srunen. Dulu nama ini terasa asing bagiku. Namun lama-kelamaan nama ini begitu melekat dihatiku, seiring dengan sapa hangat warga yang selalu tersenyum ramah menyambut kedatangan kami.
Sampai dimasjid nurul huda srunen, kami langsung disambut sapa hangat warga.
“lho mbak, katanya pulang kegresik?” Tanya bu dukuh dan beberapa ibu lainnya yang mengira kusudah berangkat kegresik. Aah ibu, belum bu. Aku masih ingin disini. Aku masih ingin ikut ustadz kesini, berjumpa dengan ibu-ibu semua….
(bersambung…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar