Rabu, 21 Maret 2012

siluet senja merapiku


Mobil APV yang kami tumpangi melesat cepat menuju sebuah dusun kecil disudut merapi. Jalanan sepanjang merapi dari mulai sawah hijau, air yang mengalir disela-sela pematang sawah, menandakan bahwah ini daerah yang subur. Daerah yang berpotensial untuk lahan pertanian dan peternakan.
Mobil kami masih melaju cepat, dengan ustadz solihun sebagai driver nya. Cahaya matahari yang menyemburat dari ufuq barat memberikan sebongkah semangat bagi kami untuk terus berjuang disana. Membina ibu-ibu dan mbah2 yang haus akan ilmu, akan manisnya menikmati ibadah.
Perlahan mobil kami berjalan pelan, ooh rupanya mobil apv hitam ini akan menyebrangi sungai lahar dingin. Jembatan yang dulu utuh kini sudah rusak diterjang lahar dingin. Kiri kanan sungai penuh dengan pasir. Mobil2 truck besar berjejer untuk mengambil pasir. Hilir mudik truk2 dan kendaraan roda 4 lainnya memperparah jalanan yang terkena luapan lahar dingin ini. Lubang disana disini, krikil-krikil dan pasir disepanjang jalan membuat mobil yang kami tumpangi tak bisa melaju cepat.
Pemandangan disekitar merapi sungguh sangat indah, dikiri kanan banyak pepohonan nun hijau, diujung utara sana terlihat hamparan sungai yang dipenuhi lahar dingin, sementara di bawah sana terlihat kota jogja dengan dikelilingi oelh pegunungan. Subhanallah...
Tiba kami disebuah didusun, sapa warga langsung menyambut ledatangan kami. Anak-anak yang dulu ketika erupsi itu terjadi mereka masih kecil. Namun kini, mereka sudah tampak dewasa. Bermain bola dengan teman2nya, disebuah tanang kosong  diantara kandang sapi dan rumah mereka. Mereka lalu berhenti bermain dan menyapi kami. Senyum mereka begitu tulus...
Dari atas terlihat sebuah masjid tengah berdirih megah, sementara dibelakang kami merapi dengan gagah tegak berdiri menjulangkan wajahnya keatas, dengan kawah yang mengangah dan asap yang terus menyembul keudara...subhanallah...ALLAHU akbar...
“nderek aken mbk” sapa seorang mbah2 yang melhat mobil kami lewat.
“inje mbah, “tangan kami melambai diiringi seutas senyuman.
Mobil kami lalu turun dimasjid itu. Didepan atap masjid itu tertera sebuah nama “masjid nurul huda srunen” ya, masjid yang setahun lalu rusak parah diterjang erupsi merapi kini telah dibangun kembali sehingga berdirilah ia, menjulang megah diantara rumah-rumah dan ladang-ladang milik warga setempat. Konon katanya masjid ini menghabiskan dana sekitar hampir 0,5 M. Cukup megah untuk masjid ukuran kurang lebih 15x15 m ini.
Beberapa ibu-ibu paruh baya sudah menunggu kedantangan kami. Senyum mereka langsung tersunging saat kami keluar dari dalam mobil. Senyum yang penuh dengan ketulusan. Raut wajah mereka terlihat begitu ramah. Satu persatu mereka menyampa dan menyalami kami.
“monggo mbk”katanya
“iya bu”sapa balik kami dengan berusaha untuk bisa memberikan senyum setulus mungkin.
“pripun kabar mbah?ten mriki jawa riyen to mbah?”tanyaku pada mereka dengan bahasa jawa seadanya.
“ngga mbak, cuman angin saja awet wingi”jawab budukuh.
“ouw,,,ten jogja, gek wau bengi jawa”
“ouw”kataku bulet. Sambil melirik kearah ustadz, beliau sudah memberikan isyarat agar acara pengajian segera dimulai. Kami lalu saling lirik. “udah kamu aja dil” kataku pada fadil”
“ngga aah kamu aja nur, kan kamu yang biasanya”kata fadil menyuruh balik. Aku lalu diam sejenak. Kulihat dini dan luthfun duduk disampingku. Hmm...mbak kiki sama mbk evi mana ya?pikirku dalam hati.
“karena hari sudah sore, monggo ibu-ibun langsung kita mulai saja nggeh?”kataku pada mereka. Disambut anggukan mereka.
Usai mengucap salam dan membaca la-fatihah dan surat-surat pendek bersama-sama, kajian lalu kukembalikan pada ustadz, beliaulah yang akan mengisi kajian ini. Beliau lalu membuka dan mengisi kajian tentang bacaan dalam sholat. Antusias mereka, sungguh patut diacungi jempol. Usia mereka tak menghalangi mereka untuk terus tholabul ‘ilmu. Ya, masih ingat kan hadits nabi yang mengatakan untuk terus tholabul ‘ilmu dari buaian sampai liang lahat?. Ooh, robbi, aku sangat salut sama mereka.
Setelah hampir 15 menit ustadz mengisi kajian, beliau lalu meminta kami untuk mengecek bacaan sholat mereka. Tiap-tiap diantara kami memegang tiga orang. Aku lalu memojokkan diri.
“monggo ibu-ibu yang mau sama saya, silahkan kesini. Tapi tiga orang saja ya bu”kataku pada mereka. Sempat kaget aku saat kulihat tiga orang mbah usia 6oan datang kepadaku. Tapi mau gimana lagi. Aku harus bisa. Kataku dalam hati.
Kami berempat lalu doa bersama-sama. Lalu sesuai permintaan ustadz diawal tadi, aku lalu mengecek bacaan sholat mereka.terbata-bata dengan pelafalan huruf yang tak lagi sempurna, mereka begitu semangat. Mencoba bersuara sekeras mungkin, karena memang suasana masjid begitu riuh.
“mbak, kalau sholatnya ga pake doa iftitah atau bacaan surat pendek gmana?soalnya sudah setahun lebih saya ngga sholat jadi banyak yang lupa bacaanya”kata salah seorang mbah-mbah.
“ngga apa-apa mbah. Sebissanya saja. Yang pentiing kita tetap sholat”jawabku dengan senyuman.
Sambil mengecek hafalan sholat mereka, kubimbing mereka, kujelaskan makna dari bacaan sholat itu.
“pripun mbah, sudah paham?”tanyaku pada mereka.
“belum mbak, kulo mboten saget bahasa indonesia”kata mereka kompak. Gleeeeeeeeek...aku langsung menelan luda. Lha merek sajaga paham bahasa indonesia, gimana mereka bisa mengerti ?aku terdiam sejenak. Padahal aku sudah berusaha untuk menjelaskan dengan bahasa yang seringan mungkin dan mengeraskan suaraku agar terdengar jelas oleh mereka, bahkan sampai kuulang tiga kali.

B E R S A M B U N G !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar