Na,na,na,,,na,na,na,na,..hapeku berdering (entah apalah ringtonnya, ndak jelas. Itu rington dari hape yang menurutku paling enak didengar). Terlihat nama chopid disana. Ya dia sahabat karibku,,,ada apa ya?tumben dia nelpon siang2 gini?
“iya assalamualaykum”sapaku
“waalaykumsalam”jawabnya dari seberang sana
“tumben nyai telpon?ada apa?”kataku
“lho sibuk ndak?”
“ndak kok nyai. Sante aja”jawabku
Kami lalu terlihat obrolan asyik, ngalor ngidul ndak jelas.
“lho? Iya ta?ama siapa?”tanyaku saat mendengar kabar temen2 yang akan nikah.
“sibodrek ama anak bojonegoro, cak mukh ama guru teka, jaya, mbak elis”jawabnya
“ouw..........hmm...truz anti kapan?”tanyaku lagi
“ga tau juga nuuung,,,pada sibuk masing2 je, dia sibuk kerja, sedang aku sibuk juga masih sibuk kuliah”jawabnya. Terdengar nada suaranya mulai turun. Sedih itu yang kutangkap.
“jangan lama-lama mbk...kita sebagai akhwat juga butuh kepastian...emang mbk enak nggantung kayak gini?ga pasti?”kataku panjang.
“iya nuuung, ngga enak”
“ya emang ngga enak. Apalagi kita akhwat, butuh kepastian. Nah kalau kayak gini mau ga mau jelas kepikiran”
“hu um...”katanya...”lha truz kamu kapan nuuung?”tanyanya
“haaahhh???aku???aaah masih lama. Sekitar 1 sampai 2 tahun lagi”hehe kataku sambil cengar-cengir sendiri...
Sebuah pelajaran yang dapat kuambil. Betapa pentingnya menjaga hati. Memang kadangkala dorongan dari orang tua atau motivasi untuk segera menikah membuat kita ingin segera menemukan siapa sih sang belahan jiwa itu, kita penasaran siapa orang itu, yang dalam doa kita slalu meminta pada-Nya untuk segera dipertemukan dengannya. Tapi jika belum siap misalnya, haruskah kita menerka-nerka siapa dia, saling men “tag” atau janjian bahwah suatu saat nanti kita akan nikah?lalu saling smsan, telponan, merencanakan masa yang akan datang, masa yang akan dijalani bersama. Memang menjaga hati itu susah, kalau sudah saling men “tag” gini gimana bisa jaga hati?saling memikirkan satu sama lain, zina hati. Itu sudah jelas terjadi. Lalu siakhwat H2C, harap-harap cemas, menanti calon imamnya datang melamarnya, sementara siikhwan juga gelisah karena belum jua siap. Akhwat butuh kepastian sementara ikhwan butuh kesiapan.
Saya pernah tanya ke mr saya mengenai hal ini. Beliau dengan tegas mengatakan “itu zina terselubung. Ini pacaran terselubung”. Ustadz juga pernah bicara dalam perjalan kita kesrunen bebarapa minggu yang lalu “bolehlah kita menunjuk seseorang. Tapi kemudian diproses secara syari” intinya tetap dalam koridor syariat, bukan membenarkan apa yang syubhat,,,
Lama saya merenungi hal ini sampai saya benar-benar paham bahwah menjaga hati itu penting. Menjaga prilaku dan berhati-hati dalam bersikap itu penting...
Waallahu a’lam...
Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat saya terutama...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar