Jumat, 06 April 2012

sudah benarkah niatku???


Jam menunjukkan pukul 11.30 siang, matahari menyembulkan sinarnya dari balik awan putih. Cerah dan indah, awan putih disekelilingnya bersinar putih dengan ditemani langit biru. Namun sayang ia tak sekedar membawa sinarnya yang indah, tapi pancaran rasa panas yang menyengat. Yang menurut penelitian sekarang ia membawa sinar radiasi yang bisa menyebabkan kanker kulit. Ooh benarkah???
Aku terus mengayuh sepedaku,  sepeda mini biru second yang kubeli 2 tahun silam. Masih agak lupa-lupa ingat, waktu itu harganya sekitar 350 ribu dipasar sepeda seketar pojok beteng. Sepedaku ini agak berat memang, hingga memaksaku untuk terus mengayuhnya dengan sekuat tenaga.
 Tak kuhiraukan peluh yang menetes dari wajahku yang katanya makin item bak bule dari afrika. Hingga sebuah gelar disematkan salah seorang teman kepadaku  “pembalap” alias pemuda berbadan gelap. Yup, sebuah gelar yang membuatku mati kutu kala ada yang menyebutnya. Karena selain emang diriku pembalap sepeda onthel, wajahku emang gelap. But is no problem for me J
“tiiiiit....”sebuah sepeda motor mengklaksonku lantaran aku asal maen nyebrang. Sontak aku kaget dan segera minggir.
“huft!” kataku dalam hati, sambil mengelus dadaku. Kulihat sepeda mini birukku, ooh ternyata ngga apa2...bathinku...
Aku kembali mengayuh sepedaku, seolah lupa dengan kejadian barusan, anganku kembali melayang bersama hembusan angin siang. Pandanganku tak terarah entah kemana. Tiba-tiba Bayangan wajah anak-anak terlintas dipikiranku. Ulah mereka yang lucu, bikin gemez, kesel, mereka dengan segala keunikannya yang khas. Aah rasanya aku begitu semangat. Yup! Sebentar lagi aku akan bertemu mereka.
Aku terdiam sejenak.
Perlahan kuayun pelan sepedaku. Aah rasanya aku malu kalau hanya mengajar Karena aku sayang sama mereka. Bukankah mengajar quran itu prioritas utama sebelum mengajar ilmu-ilmu yang lain?yaah,,,aku teringat pesan ummi natsir beberapa waktu silam. “nak, mengajar quran itu prioritas utama sebelum kamu mengajar ilmu-ilmu yang lain”. Glek!!!lkutelan ludahku pelan, seolah tersohok dengan kata-kata itu. Mengajar quran memang prioritas utama, tapi tentunya semua harus karena ALLAH, bukan karena aku rindu sama mereka atau yang lain. Ayunan sepeda ini, tenaga dan pikiran ini akan sia-sia kalau semua yang kulakukan ngga mendapat ridho dari-NYA.
Aku menghentikan ayunan sepedaku.
Kuhirup napas dalam-dalam. Kupantangkan wajahku kearah matahari, menantang sang raja siang yang memancarkan sinar yang begitu panas. “ya ALLAH, bukankah semua yang kulakukan harus karena-MU. Hanya untuk mencari ridho-MU. Apapun itu. Aku malu kepada-MU wahai dzat yang penguasa alam semesta, yang jiwaku ada dalam genggaman-NYA, karena dalam hati ini masih tersimpan riya’-riya’ kecil yang membuat-MU enggan menerimah ‘amalku. Yang bisa membuat amalku sia-sia. Dan menjerumuskanku kedalam api neraka. Aku mohon perlindungan kepada-MU dari hati yang tidak khusyu’ dan hati yang condong kepada kemaksiatan...amin”kataku lirih, lalu kulanjutkan ayunan sepedaku menuju sekolah.
Semoga sedikit renungan ini bisa menjadi refleksi bagi kita untuk selalu merefresh dan memperbarui niat. Dalam hal apapun itu. Karena niat tak sekedar diawal, tapi hendaknya selalu diperbarui, karena bukan mustahil kalau setan selalu menggoda kita untuk membengkokkan niat kita, hingga akhirnya terjerumus dalam lembah syubhat yang mengantarkan kita pada lembah kemaksiatan. Kadang kala ia membungkusnya dengan kata-kata yang cantik hingga seolah apa yang kita lakukan, apa yang kita niatkan itu benar, benar dihadapan kita, hingga kita selalu mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahan kita, bukan kebenaran yang akan menuntun kita pada jalan menuju surga-Nya...
Waallahu a’lam bishshowab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar