Sabtu, 07 April 2012

sederhana namun mendalam...



Yaah nikah lagi nikah lagi...kataku dalm hati...”aku langsung ngeloyor pergi. Sementara mereka melanjutkan ceritanya panjang lebar. Dari jauh kulihat wajah mamake tersipu malu. Piiiink...kalau kata khaurah. “ya ALLAH dekatkanlha jodohnya, pilihkan jodoh yang trbaik untuknya. Berikan kesabaran kepadanya dalam masa penantiannya ini ya ROBB...”bathinku lirih...
Entahlah,,,kenapa aku ikut-ikutan kesal kalau mamake sudah mulai bahas nikah. Mungkin terlalu sering kali ya, atau sebenarnya aku sendiri yang ga suka, atau sebenarnya aku sendiri yang pengen nikah?hah?please  deh nuuur!stop!jangan diterusin!
Kadangkala memang, aku kesal dengan sikap mamake, pengen  nikah  sih iya gpp, tapi jangan terlalu berlebihan dan jangan terlalu dipikir. Ustadz sholihun pernah bilang, “bolehlah kita pengen nikah, tapi jangan terlalu dipikir. Karena semuanya akan terbengkalai”
Yaah memang benar kata ustadz. Kita boleh ada keinginan nikah, tapi jangan dipikir terus nanti semuanya akan terbengkalai. Prioritaskan tugas pokok kita dulu, amanah orang tua, yaitu tholabul ‘ilmi. Kalaulah jodoh itu datang disaat kita masih dalam proses mencari ilmu, jika siap monggo, bahkan itu bisa menjadi nilai ibadah. Tapi Kalau ia tak kunjung datang walau kita sudah merasa bener-bener siap?jangan dipikir  teruz, tetap pada prioritaskan yang utama, Tholabul ‘ilmi, sambil teruz memperbaiki diri dan mencari pengalaman sebanyak mungkin.
Memang mempersiapkan nikah sejak sekarang itu penting.dan sangat penting. Saya jadi Teringat kembali pesan-pesan ustadz solihun dalam perjalanan kami kesrunen, ya niatkan nikah itu hanya karena ALLAH, jangan karena yang lain, dan persiapkan diri kalian untuk bisa menerimah pasangan kalian (suami) apa adanya. Bisa jadi ia bukan orang yang pandai, maka belajarlah yang rajin supaya nanti bisa mengimbangi, bisa jadi nanti dia akhlaknya kurang baik, maka perbaikilah diri kalian supaya nanti bisa meluruskan dia, belajarlah untuk berwirausaha atau mencari maisyah, siapa tau nanti dia bukan orang yang mapan, supaya kita bisa membantu dia. Intinya pada persiapan yang real, bukan hanya sekedar membaca buku-buku nikah atau ikut kuliah2 pranikah yang menggugah semangat kita untuk nikah muda.
Selain itu dalam menetapkan standar kriteria, bolehlah kita minta seorang pasangan yang tajir, mapan, cakep, pinter, yang khafidz, pinter b.arab, dan lain sebagainya. Tapi apakah dengan semua menjamin akan baiknya kehidupan kita selanjutnya???.”dek, kalau kita nyari seorang calon suami itu cukup 1 kriteria. Sholih. Percuma kalau ia pinter, kaya, cakep, kalau akhlaknya ga baik. Emang kita nikah sama kepinterannya?kekayaannya?kita hidup sama akhlaknya dek. Perkara kok ternyata dia hafidz, pinter, dll itu bonus. Sekarang perbaiki diri. Persiapkan diri, agar ketika dia datang, kita sudah bener-bener siap.jodoh itu seperti rizky, maka jemputlah ia dengan cara yang baik. Jangan menentukan target. Karena jodoh itu ada ditangan-NYA. Mintalah pada ALLAH, agar diberikan jodoh yang baik. Dan didekatkan jodohnya”kata ummi hasbi waktu itu...
Sedikit pesan yang dapat saya ambil dari pesan-pesan ustadz sholihun dan ummi hasbi,,,
Sungguh sebuah pesan yang kelihatan sederhana, namun penuh makna,,,
Wallahu a’lam bishshowab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar