Adzan ashar telah dikumandangkan, tanda waktu ashar telah tiba. Hening. Hanya adzan ashar yang terdengar dari berbagai penjuru yang mengisi keheningan asrama. Entahlah, tak seperti biasanya. Biasanya beberapa detik setelah adzan berkumandang bel langsung dibunyikan, entah itu pemandu atau teman-teman lain yang hendak menunaikan sholat.
“den, bangun. Sholat dulu sana gih”kataku sama denok yang
tertidur diranjang atas.
“iya nur bentar. Aku mau rebahan bentar.”kata denok
menimpali. Aku hanya mengiyakan. “Ya dikasih toleransi dikit ndak apa-apa”bathinku.
Sepi,,,denok tertidur. Sementara aku, hanyut dalam dunia
maya. Berselancar kesana kemari.
“den, udah hampir jam 16 ne”kataku lagi, saat kulihat jam
netbookku yang hampir menunjukkan pukul 16.
“oh ya???ya sudah aku sholat dulu”kata denok sambil beranjak
dari tempat tidur. Akupun lantas siap-siap. Ya jangan sampai nanti tiba disana
kami telat.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 16 lebih 5 menit. Motor yang
dikendarai denok, melesat cepat menuju perumahan candi indah. Kulihat mentari
sore tersenyum cerah, menyemburatkan warna-warni jingga, kuning, dengan langit
biru dan awan putih tipis mengelilinginya. Indah. Seolah mereka juga ikut
senang untuk bertemu wajah-wajah yang tak lagi muda, namun semangatnya patut
kita jadikan contoh.
10 menit perjalanan dari asrama keperum candi indah, akhirnya
kami sampai juga dimasjid yang terletak diperumahan kelas menengah atas ini. Sebuah
masjid yang memang sengaja dibangun sebagai fasilitas ibadah bagi warga yang
muslim.
Tak seperti masjid-masjid dikampung yang masih memadukan antara budaya jawa hindu
dengan budaya islam. Arsitek masjid ini cenderung memadukan antara bangunan
khas indonesia clasic dan sedikt corak khas timur tengah, dengan warna cream
sebagai warna yang mendominasi. Cantik dan elegan.
“maaf bu, kami telat” sapa kami langsung minta maaf sama
beliau.
“wah iya mbk, kami sudah nunggu dari tadi”canda burudi. Kami
hanya tersenyum malu. Malu karena kalah semangat sama mereka. Meski usia mereka
sudah tak lagi muda, meski lidah mereka sudah tak lagi lentur dan sudah agak
susah dalam pengucapan makhorijul huruf tapi semangat mereka, luar biasa. Usia mereka
tak menghalangi semangat mereka untuk bisa membaca al-quran. Walaupun mereka
harus belajar sama anak-anak kecil seperti kami, yang mungkin jarak usia antara
kami sperti ibu dan anak.
Aku hanya tersenyum bahagia melihat raut wajah mereka yang
penuh keramahan. Terkadang aku berfikir “seandainya ibu-ibu dikampungku punya
semangat yang tinggi seperti mereka, ingin
rasanya aku segera pulang dan mengabdi disana”.
“nur, kamu yang klasikal ya”kata denok membuyarkan anganku.
“sip”kataku menimpali. Aku lalu membuka acara belajar
qiroati kali ini dengan salam dan doa, lalu kulanjutkan dengan kelas klasikal. Dengan
suara seadanya mereka bersemangat membaca tulisan-tulisan diperaga klasikal.
“mbak. Jangan cepet-cepet”protes bumargono yang masih
dijilid 1.
“jangan cepet-cepet ya bu”kataku pelan.
Mereka lalu membaca pelan sampai akhirnya klasikal selesai. Dan,
seperti biasa. Setelah klasikal dilanjutkan setor bacaan satu persatu.
“bedakan antara dzo dengan dho, sa dengan sya ya bu”pintaku pada
bu margono ditengah-tengah setor.
“hehe iya mbak” bumargono lalu latihan membaca huruf-huruf
itu. Ya, tentunya tanpa rasa malu, ataupun kesal karena saya perbaikin makhroj
hurufnya. Kulirik denok disebelahku juga sama, sambil ketawa dan senyum-senyum
denok memperbaiki bacaan huruf bu eko. Tawa, canda, senyum sengaja kami
hadirkan dalam proses belajar mengajar kami agar tak ada perasaan menggurui dan
digurui, atau tersinggung dan suasanapun menjadi cair hingga keakrabanpun
terjadi diantara kami.
Mengajar mereka memang harus penuh kesabaran, dan sedikit
kelonggaran atau toleransi. Karena bagaimanapun usia mereka sudah tak lagi muda.
Sehingga kami harus maklum dengan kondisi lidah mereka yang tak lagi lentur
atau nafas mereka yang sudah tak lagi panjang.
Hari semakin sore, sinar mentari mulai redup. Sang raja
siangpun sudah mulai menyembunyikan wajahnya dibalik ufuk. Namun, semburat
warna jingga megah merah masih tersemburat. Saatnya kami mengakhiri acara
belajar quran kali ini. Kami lalu menutupnya dengan doa. Bebrapa saat kemudian
adzan maghrib dikumandangkan oleh muadzdzin masjid ini. Denok lau sholat,
bersama bu eko, bu margono dan bu tri, disusul jama’ah lain yang terus
berdatangan. Aku hanya mojok dibalik serambi masjid sambil mengamati jama’ah
yang terus berdatangan. Kulihat pemandangan disekeliling masjid. Pelan kurahkan
mataku keseluruh penjuru masjid. Ternyata Masjid ini juga nampak indah diwaktu
senja. Bohlam yang berjejer mengitari pagar masjid memancarkan sinarnya yang
terang. Beberapa rumah yang berdiri tegak didepannya sudah mulai terlihat
terang oleh sinar lampu didalamnya. Sementara dikanan masjid, tanah kosong dengan
beberapa pohon yang tumbuh disana, dan dikanan masjid terdapat sebuah pemakaman
umum yang dikelilingi pagar tinggi.
“mbak pulang dulu ya”kata bumargono. Kami sambut dengan
salaman hangat dan senyum ramah kami.
“iya bu”kata kami.
Kami lalu bergantian bersalaman dengan beliau beliau, tiga
orang srikandi dari perum candi indah.
“semoga sukses ya”bisik bu tri disela-sela cupika cupiki
kami.
“amin”kataku pelan. Beberapa saat kemudian disusul bueko
yang merangkul kami satu-satu.
“semoga sukses ya naak”beliau membisikkan kalimat itu pelan
dalam rangkulan hangat beliau.
“deg”jantungku langsung berdenyut keras. Entahlah apa aku
terenyuh, atau terharu akan doa-doa beliau. Sebuah kalimat yang diucapkan
dengan penuh ketulusan hati. Sebuah kalimat yang diucapkan dengan kasih
sayang...
“amin”kataku lirih...sambil beranjak keluar meninggalkan
masjid ini bersama mereka....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar